Awalnya saya tidak sengaja melihat potongan video podcast Dedy Corbuzier yang membahas tentang jurusan Ilmu Perpustakaan di Facebook, sebenernya dalam podcast tersebut bukan dunia perpustakaanlah yang dibahas, melainkan tentang otomotif lebih tepatnya balap motor, hingga Dedy Corbuzier bertanya dengan Ridwan Hanif salah satu narasumber podcast tersebut tentang jurusan apa dia kuliah dulu, dijawablah oleh Ridwan bahwa beliau dulu kuliah jurusan ilmu perpustakaan, sontak dedi bingung hah jurusan ilmu perpustakaan ada?, belajar tentang apa? Dijawablah oleh ridwan belajar tentang arsip, perpustakaan, organizing dan temu kembali.
Dan akhirnya saya tergelitik untuk membuat opini saya tentang ilmu yang saya geluti saat ini. Pertanyaan Dedy Corbuzier tersebut sebenarnya adalah pertanyaan yang sering kali dipertanyakan oleh banyak orang, karena sering orang beranggapan bahwa untuk apa sebuah perpustakaan harus ada ilmu nya? yang mereka fikirkan perpustakaan hanyalah tempat menyimpan buku yang seolah-olah setiap orang bisa. Padahal Sebuah perpustakaan bukan hanya untuk penyimpanan buku, tetapi dalam sebuah perpustakaan harusnya menjadi pusat informasi, referensi, dan rekreasi bagi civitas akademika tempat perpustakaan tersebut bernaung.
Dahulu perpustakaan adalah tempat pusatnya peradaban, sehingga perpustakaan menjadi barometer maju dan mundurnya suatu bangsa, Pada jaman dahulu buku menjadi tempat untuk menuliskan sebuah karya yaitu berupa informasi, ilmu pengetahuan bahkan sebuah cerita, bahkan Wakil Presiden pertama Indonesia Mohammad Hatta pernah berkata “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Itu menandakan bahwa sungguh besar pengaruh perpustakaan terhadap perkembangn zaman. Dan saat ini dunia sudah dikuasai oleh teknologi, bahkan sebuah buku tidak perlu ditulis dalam sebuah kertas karena hanya dengan sebuah gawai kita bisa menyimpan berbagai jenis buku, untuk itulah Pustakawan harus selalu berinovasi agar perpustakaan tidak akan hilang dari peradaban.
Saat ini sudah berada di era revolusi industri 5.0. Pada era 5.0, industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana, dikenal dengan istilah Internet of Things (IoT). Industri 5.0 telah memperkenalkan teknologi produksi massal yang fleksibel, mesin akan beroperasi secara independen atau berkoordinasi dengan manusia, mengontrol proses produksi dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan dan penyesuaian produksi. Salah satu karakteristik unik dari industri 5.0 adalah pengaplikasian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Berkembangnya era industri 5.0 juga harus berdampak pada perkembangannya dunia perpustakaan. Perpustakaan, pustakwan dan pemustaka dituntut harus kreatif dalam melakukan inovasi. Perpustakaan dituntun harus mengikuti perkembangan zaman, saat ini informasi mudah untuk diperoleh melalui internet, tetapi tidak semua informasi yang ada di internet merupakan informasi yang benar karena banyaknya informasi palsu yang juga tersebar. Dari sini perpustakaan haruslah menjadi wadah untuk memberikan informasi yang dibutuhkan terutama oleh pemustaka. Sebagai pustakawan juga harus dituntut untuk melek akan teknologi, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat meminjam buku tetapi harusnya perpustakaan menjadi tempat pemustaka untuk bisa berdiskusi, melakukan seminar dan perpustakaan harusnya menjadi tujuan yang nyaman untuk sekedar melepas penat. Dan pemustaka juga harus kreatif dalam mencari informasi, di era saat ini untuk mencari sumber informasi pemustaka bisa mencari terlebih dahulu melalui OPAC (online public acces catalog) di manapun berada, baru setelah menemukan informasi yang di inginkan barulah datang ke Perpustakaan, ini yang dinamakan efisien dalam bekerja.
Ilmu perpustakaan, perpustakaan dan apapun itu mengenai bidang kepustakawanan haruslah tetap kita jaga , karena kita para pustakawan atau semua yang bekerja didunia perpustakaan ini lah yang menjadikan perpustakaan ada dan terus berkembang sehingga mampu memberikan berbagai ilmu kepada seluruh kalangan masyarakat.
