Ada satu kebiasaan kecil yang sering kita anggap sepele, tetapi diam-diam menjadi penghambat terbesar dalam hidup yaitu ”menunda” dengan alasan yang terdengar masuk akal “nanti saja”, “tunggu waktu yang tepat”, atau yang paling akrab, “iya, tapi…” Padahal, di balik kata “tapi” dan “nanti”, sering tersembunyi keraguan, rasa takut, bahkan kemalasan yang kita bungkus rapi dengan logika.
Dalam keseharian, kita sering menemukan diri kita berdiri di antara dua pilihan: bertindak atau menunda. Dan anehnya, kita kerap memilih menunda dengan keyakinan bahwa waktu esok akan lebih ramah, lebih longgar, dan lebih siap untuk kita gunakan. Padahal, waktu tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah keberanian kita untuk memulai.
Kerjakan tanpa tapi. Kalimat ini sederhana, tetapi tidak selalu mudah. Sebab “tapi” sering kali menjadi tempat kita bersembunyi. “Saya mau mulai menulis, tapi belum ada ide.” “Saya ingin membaca, tapi masih capek.” “Saya ingin berubah, tapi situasi belum mendukung.” Dan tanpa kita sadari, “tapi” menjadi tembok yang kita bangun sendiri—menghalangi langkah yang sebenarnya bisa kita ambil hari ini.Padahal, banyak hal tidak membutuhkan kesempurnaan untuk dimulai melainkan butuh kemauan.
Lakukan tanpa nanti. “Nanti” adalah janji yang paling sering diingkari, bahkan oleh diri sendiri. Kita menumpuk rencana demi rencana, berharap suatu hari semua akan terlaksana. Namun hari itu jarang benar-benar datang. Karena “nanti” tidak pernah punya kepastian. Ia hanya memberi rasa nyaman sesaat, tanpa benar-benar menyelesaikan apa-apa. Sementara itu, waktu terus berjalan. Kesempatan berlalu. Energi berkurang. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah penyesalan kecil yang menumpuk menjadi beban besar.
Dalam konteks kerja, organisasi, bahkan dalam pengelolaan perpustakaan sekalipun, semangat ini menjadi penting. Program tidak akan berjalan hanya dengan wacana. Layanan tidak akan berkembang hanya dengan rencana. Perubahan tidak akan terjadi hanya dengan diskusi, Ia butuh tindakan. Perpustakaan yang hidup bukanlah perpustakaan yang banyak ide, tetapi perpustakaan yang berani mengeksekusi ide. Yang tidak terjebak pada “tapi anggaran terbatas” atau “nanti kalau sudah siap”. Karena sejatinya, kesiapan sering kali justru lahir dari proses melakukan, bukan menunggu. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini, meski kecil. Lakukan apa yang mampu dilakukan sekarang, meski sederhana. Sebab langkah kecil yang konsisten jauh lebih bermakna daripada rencana besar yang terus ditunda.
Ilustrasi kehidupan: seorang pustakawan
Di sebuah sudut perpustakaan, ada seorang pustakawan yang setiap hari melihat rak-rak buku yang mulai sepi disentuh. Ia tahu, ada yang perlu diubah. Ia ingin membuat sudut baca yang lebih hidup, ingin menghadirkan program literasi kecil, ingin mengajak pemustaka kembali datang bukan karena kewajiban, tetapi karena kebutuhan. Namun di kepalanya, banyak “tapi” bermunculan.“Tapi ruangnya terbatas.” “Tapi koleksinya belum lengkap.” “Tapi belum ada anggaran kegiatan.”
Hari-hari berlalu, dan perpustakaan tetap berjalan seperti biasa sunyi, rapi, tetapi terasa jauh. Di sisi lain, ada pustakawan lain yang memilih cara berbeda. Ia tidak menunggu semua sempurna. Ia mulai dari hal kecil. Ia geser beberapa meja, ia buat sudut baca sederhana, ia tulis rekomendasi buku dengan tulisan tangan, ia ajak satu-dua pemustaka berdiskusi ringan. Tidak ada yang langsung besar. Tidak ada yang langsung ramai. Tetapi perlahan, ruang itu berubah. Ada yang mulai betah duduk lebih lama. Ada yang kembali lagi keesokan harinya. Ada yang mengajak temannya. Perbedaannya sederhana: yang satu menunggu, yang satu memulai. Dan dari situlah kita belajar, bahwa perubahan di perpustakaan seperti juga dalam hidup, tidak lahir dari rencana yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk bertindak. Maka, jika hari ini kita berada di posisi itu, melihat sesuatu yang bisa diperbaiki, yang bisa dihidupkan kembali, jangan tunggu semua siap.
