Jl. Ki Hajar Dewantara 38B Ds. Banjarrejo Kec. Batanghari Kab. Lampung Timur - Lampung
Contact Us!
“Perpustakaan Zombie, Sudah Saatnya Kita Tinggalkan” Oleh Aan Gufroni

Berawal dari obrolan ringan di grup WhatsApp pustakawan, muncul satu istilah yang cukup menggelitik,  perpustakaan zombie. Awalnya terdengar seperti candaan, tapi semakin dipikir, istilah ini justru terasa nyata di lapangan.

Perpustakaan zombie atau bisa juga disebut “rumah zombie”adalah gambaran perpustakaan yang masih berdiri secara fisik, memiliki koleksi, bahkan tetap menjalankan layanan, tetapi kehilangan ruhnya. Perpustakaan ada, tapi tidak hidup. Aktivitas berjalan seadanya, interaksi minim, dan suasana terasa dingin serta kurang menggugah. Seperti zombie bergerak, tapi tanpa jiwa.

Perpustakaan seperti ini biasanya ditandai dengan suasana yang kaku dan membosankan. Ruangannya sunyi tanpa kehangatan, pustakawan kurang komunikatif, dan yang sering kita rasakan pemustaka datang sekadar menggugurkan kewajiban. Tidak ada energi, tidak ada keterlibatan, dan yang paling terasa tidak ada kenyamanan.

Harus diakui, persepsi masyarakat terhadap perpustakaan dan pustakawan masih sering kurang menyenangkan. Ada yang bilang pustakawan itu jutek, kurang ramah, bahkan terkesan menjaga jarak. Sementara perpustakaannya sendiri dianggap kaku, sunyi, dan membosankan. Kalau kesan ini terus dibiarkan, jangan heran kalau pemustaka datang hanya karena terpaksa, bukan karena merasa butuh.

Padahal, hari ini perpustakaan dituntut untuk berubah. Bukan hanya mengikuti perkembangan zaman, tapi juga memahami kebutuhan penggunanya. Perpustakaan harus mulai beralih menjadi ruang yang nyaman, terbuka, dan menyenangkan. Tempat di mana orang tidak sekadar datang untuk membaca, tetapi juga untuk belajar, berdiskusi, rekreasi, bahkan sekadar mencari suasana yang menenangkan.

Perubahan itu tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Hal sederhana seperti senyuman pustakawan, sapaan yang hangat, dan kesediaan membantu pemustaka dengan tulus, justru sering menjadi kunci keberhasilan layanan. Dari situ, kepercayaan dan kenyamanan akan tumbuh. Sehingga perpustakaan pun perlahan berubah menjadi ruang yang dirindukan.

Selain itu, perpustakaan juga wajib memiliki program-program yang mampu membuat pemustaka ingin kembali lagi. Tidak cukup hanya membuka layanan, tetapi perlu menghadirkan kegiatan yang hidup misalnya kelas literasi informasi, bedah buku, diskusi santai, pelatihan keterampilan, hingga kegiatan komunitas. Program-program inilah yang akan menghidupkan suasana, memperkuat interaksi, dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang selalu dinanti.

Di sisi lain, suasana fisik juga perlu diperhatikan. Ruang baca yang lebih santai, fasilitas yang mendukung, serta layanan yang mudah diakses akan membuat pemustaka betah berlama-lama. Perpustakaan tidak harus selalu hening dan kaku, ia bisa menjadi ruang yang hidup, menyenangkan, dan tetap produktif.

Pada akhirnya, kita perlu jujur melihat Perpustakaan yang kita kelola, apakah perpustakaan kita masih “hidup”, atau justru perlahan menjadi Perpustakaan zombie? Kalau jawabannya masih mendekati yang kedua, maka ini saatnya berubah.

Mari kita tinggalkan konsep perpustakaan zombie. Mulai dari hal sederhana, bangun suasana yang lebih hangat, hadirkan layanan yang lebih ramah, dan ciptakan program-program yang membuat pemustaka ingin kembali lagi. Karena perpustakaan yang baik bukan hanya tentang koleksi yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana ia membuat orang ingin kembali lagi.