Yang Muda Banyakin Peran, Bukan Baperan! Oleh Dewi Mustika el Mizar

Untuk mengetahui makna sejati dari seorang pemuda dilihat dari sejarahnya, termasuk pemuda Indonesia. Jika kita bercermin pada sejarah menengok kebelakang, maka kita akan menemukan banyak sekali peran para pemuda Indonesia dalam menghadapi dinamika yang terjadi ditanah air pada waktu itu. Perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia salah satunya dipelopori oleh para kaum muda. Belum lepas rasanya kita dari peringatan sumpah pemuda ke- 90 tahun, yang puncaknya jatuh pada setiap tanggal 28 Oktober. Maka tepat sekali sebuah ungkapan yang mengatakan “Sejarah dunia adalah sejarah anak muda, jika angkatan anak mudanya mati rasa, maka matilah semua bangsa”.

Sejarah pemuda Indonesia dimulai sejak 1908 dan seterusnya. Para kaum muda Indonesia menunjukkan semangat juang dan gerakannya dalam membangun peradaban bangsa. Dari masa kemasa, setiap dinamika yang terjadi para pemuda selalu hadir didalamnya, baik permasalahan dari luar hingga permasalahan dalam negeri sendiri. Pemuda selalu angkat bicara dan tidak lupa mengepal tangan disertai dengan hentakan kaki, dan kumandang takbir.

Pemuda-pemuda kita dahulu telah menunjukkan perannya yang kita ketahui lewat sejarah. Jika kita membaca literatur tentang sejarah pemuda, kita akan merasa iri dengan kondisi pemuda saat ini. Peran kawula muda terdahulu menunjukkan jati dirinya bahwa dia adalah sosok pemuda yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk hal-hal yang positif dan sekarang diantara mereka telah tiada, kalaupun masih ada hanya tinggal nama dan kalaupun ada adalah pemuda-pemuda yang meneruskan perjuangan pemuda angkatan 28 untuk terus mempertahankan negeri ini.

Wahai pemuda ambilah peranmu!… Ketika kita tidak bisa berperan dalam bidang akademik atau ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ambilah peranmu dalam bidang iman dan taqwa. Kita bisa berkontribusi dalam berbagai hal, asal itu mengandung unsur kebaikan. Menjadi pelopor kebaikan buat dirimu sendiri khususnya dan buat orang lain pada umumnya. Dengan menjadi penggerak atau mengajak kepada kebaikan maka akan terwujud banyak komunitas-komunitas yang mencover gerakan pemuda angkatan 28 dizaman now. Seperti komunitas pemuda hijrah, pemuda bersholawat, pemuda ashabul kahfi, pemuda ngaji, pemuda Al Qur’an dll. Gandenglah tangan sahabat-sahabatmu yang masih salah langkah dan tunjukilah peta arah yang tepat. Allah sudah memberikan pesan ini dalam Al Qur’an “Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali Imron : 104]

Wahai pemuda generasi penerus angkatan muda 28, kalian sudah tidak lagi berperang, maka terbarkanlah kebaikan. Idealismemu menjadi aksesoris termewah yang menempel pada jiwa mudamu, jangan biarkan ia runtuh begitu saja, ternodai oleh nafsu semata yang berkedok, harta, tahta dan asmara. Perjuanganmu masih panjang, peran kreatifmu sangat dinantikan, untuk membawa Indonesia tumbuh dan berkembang.

 

Olah Rasa Bapermu

Pemuda kita hari ini dihadapkan pada satu kondisi dimana kecanggihan teknologi telah merubah struktur berfikir, bertindak dan bersikap. Menurut pandangan penulis sendiri, hadirnya kecanggihan tersebut belum dimanfaatkan maksimal oleh para pemuda untuk mencipta sebuah karya, akan tetapi lebih cenderung dimanfaatkan untuk memenuhi kepuasan asmara semata, meskipun tidak semua pemuda kita seperti itu. Namun ini menuai dampak yang berakibat pada terkikisnya daya kritis para kawula muda kita saat ini. Unsur perasaanya lebih besar dari pada unsur fikirnya. Sehingga seperti terjadi kemunduran berfikir, cepat baperan, mudah putus asa dan etos juangnya pun rendah alias pesimis.
Baper [bawa perasaan], adalah salah satu perasaan yang Allah karuniakan kepada setiap kita. Baper sendiri sering diartikan kondisi dimana seseorang tersentuh hatinya dan selalu mengingat masalah yang dialami oleh seseorang secara berlebihan bahkan terkadang berujung pada emosi. Padahal masalah yang dihadapi itu ya biasa saja, tidak begitu penting untuk dipermasalahkan bahkan bisa jadi itu sama sekali tidak penting. Dan kita pasti akan sering menemukan dalam kehidupan banyak pemuda millenial kita hari ini baper pada sesuatu hal yang kurang bermanfaat alias baper yang enggak bikin produktifitas diri. Misalnya nich, maraknya budaya pacaran. Kini mereka disibukkan dengan cinta yang belum waktunya, cinta yang belum jelas kehalalannya. Lebih peka atau baper ketika melihat pemuda lain memiliki pasangan [pacar], baper ketika melihat tontonan film romance, drakor dll. Padahal baper itu bisa diolah menjadi lebih baik dan produktif lo.., bagimana caranya? Olah rasa baper menjadi baper positif ‘baper = bawa perubahan positif’. Baper ketika melihat pemuda yang mengukir ketaatan kepada Allah dan Rasulullah saw. Misalnya baper melihat pemuda sholat kemasjid tepat waktu, baper ketika melihat usia muda sudah menjadi hafizd Al Qur’an, baper ketika mendengarkan merdunya lantunan ayat suci Al Qur’an dll.

Wahai kaum muda generasi penerus bangsa,… olah rasa bapermu menjadi baper positif, untuk membuat sebarek karya ditanah air tercinta. Mudamu hanya sekali, setelah itu akan usang termakan massa, tersisalah hari tua yang menjadi ujung penantian akhir hidup kita didunia ini.
Wahai generasi muda penerus angkatan 28,… dipundakmulah harapan besar sebuah Negara, untuk engkau bisa meneruskan perjuangannya. Melalui sumpah pemuda mari bersama semua rekan, sahabat muda, untuk lebih mencintai Indonesi kita dengan aktualisai potensi diri menjadi agen pembawa perubahan positif dibumi pertiwi ini. Wallahua’lam bishawab. Salam Istimewa!

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

four × 5 =